Thursday, July 30, 2009

Arrivederci Giakarta,

Okay. There were so many security checks done today. Because of the terrorists.

I (finally) felt fine on the way to the airport.
But when I was about to leave, I tried so hard to hold the tears.
And I felt excited again when we're about to land.
I was happy seeing SG roads and trees again.
And I found so many problems when I got to my bedroom
Thank God, one by one, problems were solved
The thing is why oh why I'm feeling this again.
Going back to SG were always hard, but never this hard.
So many things in my mind.
I miss home already.

But I'm not alone, I have God beside me.
And I'm gonna rejoice in His joy.
He will show me that the problems are nothing.
So what I have to do now is surrendering
I know I won't be disappointed.

Starting from now : I'm excited about Singapore again :)

Saturday, July 11, 2009

The Mighty Ducks

I got a message from my friend yesterday, "Vin if u can't sleep ( I had sleeping trouble these 2 weeks) the Mighty Ducks will be on RCTI at oo.30,"

Ya ampun. It is one of my favorite childhood movies, maybe after Home Alone 2. I didn't know which MD It's gonna be, I don't care, Charlie (Joshua Jackson) was in all those three. What I remembered is 1,2 little Charlie, and the last one is the grown up Charlie. So let see. Btw it's been years since the last time I watched (or even think about) this movie.

Then the movie began, apparently it was the 3rd, so I assumed it was the grown up Charlie. But...he's not as grown up as I remember..and I started wondering maybe it wasn't the last one or yeaaaa IT'S BECAUSE I HAVE GROWN UP...Now I see Charlie as a ...berondong.. so sad.


I was so young when the movie was released, so of course I understand the movie so much better this time hahaha, I think I all knew before was Charlie Conway is a sweet, cute, and cool hockey player in a team who plays for fun and wins. Ooh I remember Adam Banks..

And something funny : I remember 2 coaches : Gordon Bombay and apparently, Orion. All this time I thought his name was Onion hahahaha. It's funny because in Bahasa Indonesia, (bawang)'bombay' means 'onion'. And I was like owh okay, maybe they did it for purpose until yesterday I realized. Hey................ It's Orion and it's an American movie. There's no way they chose the name because 'bombay' means 'onion' in bahasa.

Even though now Charlie is sadly younger than me, I still really really really like it. The Mighty Ducks remain the second, after Home Alone 2.

Quack. Quack. Quack. Or in bahasa : kwek, kwek, kwek..

This somehow reminds me of the new 90210. They're all KIDS!

Monday, July 6, 2009

Belajar dari Bola



Berlin, 9 Juli 2006. Cuma segelintir orang yang tau betapa spesialnya peristiwa yang terjadi di tempat dan waktu tersebut di hati gue, dan betapa besar dampaknya di hidup gue.


* * *


Buat yang namanya orang Indonesia, kata olahraga itu identik dengan 2 hal: bulutangkis (because we're good at it), dan sepakbola (we wish). Bahkan nyebut kata "bola" aja udah berarti sepakbola, hebat gak tuh.

Gue sendiri diperkenalkan ke dunia penuh pesona ini sama bokap, masih inget banget pertama kali nonton Liga Inggris pas kelas 3SD, Arsenal lawan MU, waktu itu masih jamannya David Seaman, Peter Schmeichel, Dennis Berkamp, dan Mas Beckham masih ganteng dan gondrong, masih bujangan pula (baru mulai digosipin pacaran sama Posh). Waktu itu buat gue, bola tuh BOSEN banget, I didn't get it. Biasanya pas bokap nonton bola gue suka gangguin dia dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan senada "Pa, ini kapan selesainya sih?"

Flash forward beberapa tahun kemudian dimana gw udah menjelma sebagai anak SMP labil die hard fan of il Bianconero and gli Azzurri. Bahkan del Piero udah gw anggap OM gue sendiri (gue cuma punya 2 om angkat, 1nya lagi dari Hong Kong, namanya Andy Lau) dan Marcello Lippi sudah saya anggap kakek. Pokoknya pas Piala Dunia 2002 (ini World Cup pertama yang bener-bener bisa ditonton oleh anak dibawah umur seperti gue, soalnya diselenggarakan di Jepang dan South Korea, jadi waktu mainnya pas sama orang Asia, gak usah begadang), pokoknya aku padamu ITALIA!

Dan di hari yang kelam itu, seperti yang para pembaca tau sendiri, it happened. Ahn Jung-Hwan scored the golden goal. And you know what was my honest reaction right after? Gue langsung nangis-nangis histeris sampe semua orang di rumah bengong. Sakit hati lebay, sakiiit sekali, bener-bener dari gak napsu makan, gak napsu ngapa-ngapain, sampe menganggap Korea Selatan sebagai musuh bangsa.

Sejak saat itu juga, gue makin terjerumus lebih dalam. Makin addicted sama yang namanya football, Italian football, Juventus, and Italy itself. Uang jajan dipake buat beli majalah bola, ngumpet-ngumpet bangun jam 2 pagi demi nontonin si uncle dan kawan-kawannya berlari-lari di rumput hijau, dan nabung sedikit-sedikit buat ke Italia - karena saya amat sangat mencintai dan sangat ingin menjejakan kaki di negeri indah nun jauh disana ituh. Dan saya inginnn ingiiinn ingiiin sekali melihat Italia juara Piala Dunia, or kalo terlalu muluk Piala Eropa juga udah bagus, atau Juve menang Liga Champions.


Suatu hari terdengar kabar dari Mbak Tamara Geraldine bahwa RCTI akan me-replace siaran Serie A dengan Bundesliga, kabarnya untuk memudahkan mereka dapet hak siar World Cup 2006 yang akan diselenggarakan di Jerman. APAH? Perlu diingat bahwa back then, internet wasn't very accessible as it is now. And thank God, ternyata meskipun kemasannya norak, SCTV yg nyiarin Serie A dan hak siar WC 2006 jatuh ke tangan mereka! Ha! Tadinya gue udah ketakutan, soalnya bagaimana bisa hidup tanpa menyaksikan Juve (hampir) setiap minggu? Yak pemirsa, sepertinya saya terjerumus sangat dalam.


Euhm...jadi intinya sepakbola tuh bad influence? Tunggu dulu.


Despite those painfully tearful days after the defeat, the missing sleeping hours, that amount of pocket money I've spent to maintain the 'football lifestyle', gue gak nyesel suka bola, karena God taught me so many things through soccer:



Soccer and culture.

Dengan nonton bola, minimal kita akan jadi lebih tau banyak soal negara-negara yang liga bolanya disiarkan di Indo, pasti bisa deh sebutin 10 aja kota-kota di Inggris dan Italia, bendera -bendera juga jadi familiar khususnya kalo lagi ada event 4 tahunan. Kita jadi tau kalo von tuh orang Jerman, van orang Belanda, yang mononymous biasanya dari Brazil, jadi tau lafalan Perancis credit to Monsieur Henry, karakter nama-nama orang Italia yang khas - yang namanya Fernando itu most likely bukan orang Italy (yah neng? :).

Soccer will also trigger our interests in matters beyond the sport itself. Contohnya, have you ever wondered kenapa the famous Argentines kayak Messi, Camoranesi, Zanetti, dan bahkan Maradona karakter nama belakangnya berbau Italia meski mereka berbahasa Spanyol? Pasti ada historical and cultural explanation behind those names. Atau (maaf), kenapa banyak pemain kulit hitam di Timnas Perancis sedangkan di Italia gak ada sama sekali padahal negaranya cuma sebelahan? Kenapa partai El Clasico bisa seheboh itu? Karena itu bukan sekedar Barcelona vs Madrid, tapi Catalonia vs ehm, Spanyol.

Bahkan the words soccer vs football sendiri udah bikin kita sedikit lebih tau tentang perbedaan kultur 2 dunia, ya gue sih lebih dukung 'soccer', bukan karena apa, tapi emang lebih universal dan hemat waktu, bisa meminimalisir kesalahpahaman, tetapi untuk beberapa kesempatan tertentu lebih asik ngomong 'football'.

Dan setelah melihat peta kekuatan sepakbola dunia yang sebenarnya kita akan menyadari bahwa cerita Captain Tsubasa bukanlah kisah nyata. Bwahaha.



Soccer and the Father.

Everyone has a story about the way God draw him/herself closer to Him, and this is my story.


Mulai pertengahan 2002, gara-gara pengen banget ke Italia dan liat Italia menang PD (Piala Dunia bukan Perang Dunia), gw jadi rajin berdoa syafaat.

Kalo sebelom itu berdoa cuma rutinitas, dan yea okay I've heard that God anwers prayer, tapi gue belom pernah bener-bener renungin artinya.

Itu untuk pertama kalinya gw bener-bener pengen Tuhan jawab doa gw yg spesifik, doa yang I MEAN IT, yang pokoknya Tuhaaaan saya mohon dengan sangaaat, kadang bikin gw bener2 wondering, does God really answer prayer?

Dan itu adalah doa dimana gw dalam posisi powerless, ngedoain sesuatu yang sounds impossible, mo jungkir balik ikut nendang-nendang sambil nonton pertandingan juga gak ada gunanya, nothing I can do about it - begging God is all I can do. Coba, hal-hal kayak gini, bisa minta tolong ke siapa lagi coba?

Memang awalnya jadi rajin berdoa karena ada maunya, tapi tanpa sadar itu jadi ngebentuk kebiasaan, jadi lebih deket sama Tuhan dan jadi terbiasa mendiskusikan segala sesuatu ke Tuhan. Kalo sampe ketiduran dan gak doa malemnya, paginya gue pasti ketakutan, takut Tuhan gak jadi menangin Juve/Italia (haha), tapi itu jadi bikin nggak enak kalo ngongkow sebelum tidur. Doa bukan lagi cuma formalitas, tapi jadi sesi ngobrol.

Minta Tuhan buat menangin tim kesayangan kita? Gak salah? Hey just remember that God is our Father, we can talk about everything, about every aspect of our life, just like discussing sport games with our dads, and He's our buddy too.



Soccer and prayer

Lewat sepakbola, Tuhan juga ngajarin gue banyak hal soal berdoa.

Jadi ceritanya begini (well this is gonnabe long),

Like I said earlier, kadang gue ngerasa, haduh ngedoain Italia juara Piala Dunia tuh agak terlalu muluk ya, mengingat kemungkinannya sangat kecil, menang Euro aja gue udah seneng, atau minimal Juve juara Liga Champions deh. Mulailah gue ngikutin Liga Champions, dan tiap Juve tanding, gue doain sampe nangis-nangis di kamar hahaha, and we unbelievably kept on winning, sampe masuk seminifal dan harus ketemu El Real.

Entah kenapa setiap ketemu Madrid, the 9 times Champions league-champion, perasaan gue gak enak, udah ngerasa pasti kalah aja gitu, tapi tetep gue mohooon ke Tuhan supaya Juve menang. Leg pertama udah kalah, dan kalo mo maju ke final Juve harus menang dengan selisih gol tertentu - yang ehm, hanya keajaiban yang dapat mewujudkannya.

Hari itu gue ketiduran, jadi gak doa syafaat pas pertandingan, paginya bangun-bangun feeling gue gak enak - haduh, kalah deh.

Tiba-tiba terdengar bokap gue bilang ke adek gue yang masih imut waktu itu, "Dek bilangin cici, semalem Juve menang,"

Gue langsung loncat dari tempat tidur. "Hah? Beneran? Menang berapa Pah?"

"3-1," jawab Bokap.

Gw serasa mo loncat. "Ya ampun!" Gw teriak kegirangan dalam hati. "Tuhan cepet banget jawab doa gue!"

Makin deket ke partai final (lawan Milan), gue makin ketakutan. Makin rajin doa syafaat. Makin takut bikin salah. I even 'divided' the class into 2 (hahahah, great memories, kelas 2 SMP tuh salah 1 tahun akademis favorit gue, dulu gue pernah nangis di balkon sekolah gara-gara Juve kalah, jadi temen-temen sekelas gue tau betapa gue amat lebay soal beginian), "yang cewek dukung Juve ya," kata salah 1 temen sekelas gue. Ah, terima kasih ya kawan, saya tidak akan pernah lupa.

Hari itu tibalah, perut gue kram sepanjang hari, gak bisa tenang, sampe akhirnya theme song Liga Champions berkumandang, pertandingan dimulai. Gue bangunin bokap, terus ngumpet di kamar, gak berani nonton. Gue cuma berani nengok kalo komentator terdengar heboh, hoping that itu bukan karena Juve kebobolan.

Hasil seri bertahan hingga akhir pertandingan, babak perpanjangan waktu pertama, dan kedua. Gue cuma bisa berdoa sambil nangis di kamar, di depan TV, di kamar mandi, waduh di depan TV tuh pressure-nya terlalu tinggi kadang-kadang. Dan...adu penalti harus dilakukan.


Kalah.


You'd understand how it feels like to be the losing party in the final match, wouldn't you?


Reaksi gue hampir sama deh. Kalo di film-film, that would be the "TIDAAAAAAAAKKKKK!!!" moment. Habis itu gue tidur gara-gara kecapean nangis. Bangun dengan mata bengkak. Feeling devastated again. Bagi seorang anak ABG labil, hari itu merupakan hari yang berat, rasanya belom pulih dari sakit hati yang dulu, sekarang terjadi lagi, bahkan lebih nyesek kasusnya. Untung lagi libur soalnya anak kelas 3 lagi UAN kalo gak salah. Tapi besoknya harus sekolah. Gue merasa belom siap menghadapi dunia *halah.

Mungkin gak semua orang mengerti, tapi setiap orang memang punya prioritas dan passion terhadap hal yang berbeda-beda. Dan pas gue umur sekitar 14 tahunan waktu itu, rupanya prioritas beginian cukup tinggi. Kalo biasanya ABG nangis-nangis karena patah hati, gue nangis-nangis gara-gara tim kesayangan kalah. Kalo mimpi orang pengen liat Aurora Borealis, gue mimpi pengen liat Om del Piero ngangkat Piala Dunia.

Besoknya seperti yang sudah gue duga, gue masuk kelas diiringi tatapan iba temen-temen sekelas yang gak tau harus bilang apa. Gue cuma bisa duduk, bilang 'it's okay, it's okay,' berusaha gak nangis. Pas pelajaran dimulai, tiba-tiba ada yang ngedorong gue untuk bilang, "That's it. In the name of Lord Jesus I refuse to be miserable,"

Tiba-tiba gue udah gak terlalu sedih lagi. Wow. Gue sendiri heran. "I'm okay,"



That was the first lesson I got through soccer. Sebenernya untuk tinggal dalam kekecewaan mendalam atau bangkit dari keterpurukan: it's our choice.


"He gives strength to the weary and increases the power of the weak." Isaiah 40:29


We can't heal ourselves, but God is able. Tapi kalo kita mau dipulihkan, the first step towards the goal is allowing God to do so, kadang tanpa kita sadari, kita terlalu terhanyut dalam kesedihan dan enggan untuk bangkit lagi, you know, sadness can be an ecstasy in disguised.

Memang gak selalu gampang dan cepat, but once you surrender, He will do it.




2nd lesson: don't give up.

Soal yang ini, memang gue versi tahun 2009 harus belajar lagi dari gue versi tahun 2003. Gue nggak tahu kenapa, right after the second painful defeat, yang keluar dari mulut gue bukan "Tuhan koq tegaaaaaaaaaa," tapi "Oke, memang belom waktunya, tapi next year ya Tuhan, kalo nggak menang Euro ya Tuhan, kalo nggak World Cup ya Tuhan,". Dan kalo gue waktu itu nyerah, pasti nyesel banget.

Mungkin sekarang kalo kena pukulan semacem itu gue akan langsung give up dan jadi males doa. Heah. Ya memang harus belajar lagi.





3rd lesson: forgive.

And when you stand praying, if you hold anything against anyone, forgive them, so that your Father in heaven my forgive you your sins. Mark 11:25

Oops. Rhema.

Dulu ayat ini biasa aja, gue ngerasa udah maafin semua orang deh. Tapi memang baca Firman nggak cukup sekali, kadang Tuhan bisa menyingkapkan hal baru lewat ayat yang paling sering kita denger sekalipun.

Fokus doa selama periode tersebut emang minta, minta, dan minta. Gue terlalu menuntut Tuhan to give me what I wanted, tanpa gue pernah ngaca. Setelah gue disuruh berkaca pada diri sendiri (eh, ternyata cantik), lah kekurangan sih banyak, tapi Tuhan ngingetin sama 1 hal yang sounds funny, but serious: I hated South Korea.

'Tapi apa yang mereka lakukan terasa terlalu menyakitkan.'

Well about forgiving, 2 things we have to remember.
  • It is difficult, you may even say you can't, but once again, God is able. As long as you are willing to forgive, ask Him, and He will enable your heart to do so.
  • Remember that we sinned a lot, we hurt God sooo many times, we did it again and again, yet we are forgiven.

After all, South Korea is a nation that God loves dearly, a land where many of His people live.

Well sekarang, meski masih pusing kalo denger lagu KPop (no offence), sekarang saya sudah bisa mengakui bahwa Ahn Jung Hwan gitu-gitu lumayanlah.




4th lesson: pray the right way

Pernah denger istilah PUSH - Pray Until Something Happen?

Ini memang benar, kalo kita yakin dan percaya apa yang kita doakan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Darimana kita tahu ini sesuai dengan kehendak Tuhan apa bukan? Dengan pengenalan akan Tuhan, itu gunanya Firman Tuhan, kita bisa cek apakah keinginan kita bertentangan gak sama apa yang Tuhan mau, tapi it can be tricky soalnya ada hal-hal yang perlu jawaban Tuhan secara khusus (kesaksian Roh), ada yang bilang Tuhan kasih signs, atau rasa damai sejahtera, ada yang merasakan dorongan untuk bertindak, atau ada yang denger suara Tuhan secara langsung.

Untuk denger suara Tuhan secara gamblang memang kita harus melatih kepekaan roh kita - membangkitkan Roh Kudus dalam diri kita, dengan membangun hubungan yang erat sama Tuhan (not saying that I've reached the stage ya haha). Memang ada orang-orang seperti Musa atau Paulus yang tiba-tiba 'diajak' ngomong sama Tuhan, tapi buat kebanyakan orang, memang butuh ketekunan.


If you remain in Me and My words remain in you, ask whatever you wish, and it will be done for you. John 15:7


This is the confidence we in approaching God: that if we ask anything according to His will, He hears us. 1 John 5:14-15



~ ~ ~


"Pokoknya Italia harus menang ya Tuhan, jangan sampe kalah, Tuhan terus taun iniii aku pengen banget ke Italia ya Tuhan, tahun ini ya Tuhan,". Well, kalimat itu sering banget gue ucapkan di tahun 2002-2003.

Tapi gue sangat takut minta something ke orangtua, apalagi minta ke jalan-jalan ke Italia. Di keluarga gue, emang I'm the only one who has all the weird travelling obsessions. Dan gue tahu banget ke Eropa tuh, MAHAL. Italia rasanya jauhh sekali. Karena udah despo, akhirnya gue beraniin bilang ke nyokap gue pengen ke Italia, cuma diketawain, ya mungkin nyokap gue nganggep ah, anak SMP memang labil.

Sekitar setahun kemudian, untuk membuktikan kalo gue serius, gue bilang lagi ke nyokap dengan nada memelas. "Maaa, aku pengen banget ke Italii..".

"Ya doa dong," kata nyokap.

"Udahh, udah tiap hari," *pouting* muka gue pasti tampak sangat menyebalkan.

"Hati-hati loh Vin, kalo kamu ngotot, maksa Tuhan, itu namanya keinginan daging,"

JLEB.

Praying hard, boleh. Have faith, harus. Tapi coba kita pikirin gimana reaksi kita, kalo misalnya Tuhan jawab "nggak" atau "belum waktunya," apakah kita akan terima dan percaya ada rencana yang lebih besar/waktu yang lebih tepat, atau kita tetep ngotot: Tuhan pokoknya aku mau. Pokoknya harus, no matter what!

Kita boleh minta apa aja boleh ke Tuhan, tapi kita juga harus perhatikan sikap hati kita terhadap jawaban Tuhan. Keinginan kita gak boleh jadi lebih besar daripada kehendak Tuhan, so, jangan maksa Tuhan ngikutin kehendak kita kalo memang Tuhan belom izinkan, surrender to the Lord - memang gak mudah, it's terrifying, soalnya manusia kadang mikir jangan-jangan kalo surrender malah hasilnya gak sesuai dengan harapan. That's why we have to have full trust towards God, He knows what is best, and He will give us the best.


Although to us, our plans might be flawless, but remember, our mind is as tiny as a drop of water, God's mind is greater than the ocean.


Beberapa waktu kemudian, gue kasih liat nyokap paket-paket jalan-jalan ke Eropa yang banyak Italia-nya (salah satu hobi gue emang mantengin peta Eropa dan iklan-iklan tour&travel) dengan nada se-casual mungkin (no pressure hehe), eh gak taunya nyokap gue bilang ke bokap, dan bokap gue, entah lagi capek atau emosi, tiba-tiba banting remote TV. Terus marah. "papa ini nyari duit bukan buat main-main!"

Gue kaget banget, soalnya bokap gue itu orang paling sabar di dunia, dia jarang banget marah, apalagi kayak gitu. Gue pikir, kalo dia udah marah, tandanya mungkin dia udah fed up denger gue terlalu high on Italy, apa-apa Itali, denger musik lagu-lagu Itali, makan sukanya masakan Itali (iyalah siapa yang nggak suka).


Meskipun bokap gue, seperti biasa, abis marah biasanya nyesel, hehe, dia bilang ke gue dia marah bukannya kenapa, "tapi kamu kan masih kecil, mo kesana sama siapa?" *gue cuma bisa ngangguk-ngangguk nangis - masih ketakutan*, tapi semenjak kejadian itu gue udah gak berani ngungkit-ngungkit gue pengen ke Italia, meskipun tiap hari masih mendoakan hal yang sama.




5th lesson: TGIF. Today God is First. That kind of TGIF happens everyday.


But seek His kingdom, and these things will be given to you as well." Luke 12:31


Sepakbola mungkin udah menduduki posisi yang terlalu penting di hidup gue. Sebenernya kadang gue sadar, dan bilang iya deh Tuhan, I am sorry, Tuhan yang nomer 1, tapi itu cuma jadi tekad sementara atau ngomong doang, sikap hati maupun sikap sehari-hari masih memberhalakan bola, udah kayak drugs bermuka bunder ceria.

Sampe akhirnya gue ditegor lumayan kenceng sama Tuhan, waktu itu udah mo masuk SMA. Waduh ini kalo mo diceritain sangat panjang dan akan gue ceritain next time. Intinya, waktu itu, secara tiba-tiba gue ngerasa ditinggal Tuhan. Sekitar 2 minggu lebih gue ngerasa lumpuh dan ketakutan, selama periode kelam tersebut gue jadi gak terlalu peduli sama sepakbola (meskipun tiap hari tetep ngedoain Italia) dan waktu itu, gue jadi sadar banget kalo tanpa Tuhan, hidup tuh nothing - to move on, to live, God is the one we need, the most essential one, even more than the air that we breathe.

Suatu sore di kelas, gue cuma bisa senyum-senyum, kalo dipikir-pikir dan diinget-inget, gue belom pernah merasa sedekat ini sama Tuhan, dan berjalan bersama Tuhan, meski gak gampang, tapi indah. Sampai akhirnya keluar kata-kata dalam hati, gak apa-apa gak ke Italia, yang penting sama Tuhan. Dan sepertinya itu yang Tuhan tunggu. Tuhan mampu mengubah doa yang tadinya karena ada maunya ke doa yang karena mau ngomong sama Tuhan.

Yaa inget If I Ain't Got You-nya Alicia Keys aja deh.

Abis itu tapi gue bilang, "tapi kalo dikasih gak nolak ya Tuhaaan,"


Another lesson I got during the 'dark' period : feelings can be deceiving, don't trust your feeling all the time because we are all the men and women of faith, beyond sight, beyond thoughts, beyond intelligence, beyond mere feelings. Pelajaran ini gak terlalu related to soccer soalnya kalo nonton bola feeling biasanya benerrr hahahah.


Sekitar 2 bulan kemudian, Tuhan udah memulihkan gue sepenuhnya, termasuk semangat hidup, termasuk semangat terhadap sepakbola, kali ini sikap gue udah jauh lebih 'bener' dari pertama kalinya. Sepakbola to me, tetep sebuah passion, tapi bukan prioritas utama, tetep pengen ke Italia, tapi sudah sabar nunggu waktunya Tuhan.




Lesson number 6, kalo kita udah introspeksi diri dan memperbaiki cara hidup: Have faith and don't be afraid to (God-inspired) dream!

Therefore I tell you, whatever you ask for in prayer, believe that you have received it, and it will be yours. Mark 11:24

As it is written: "What no eye has seen, what no ear has heard, and what no human mind has conceived - the things God has prepared for those who love Him. 1 Corinthians 2:9

~ ~ ~


Tanpa terasa udah 3,5 tahun tiap hari berdoa untuk Italia, Juventus belom pernah masuk final Liga Champions lagi, dan Italia, payah banget di Euro, perjalanan mereka menuju Jerman pun agak terseok-seok, pokoknya timnas Italia payah banget.

Menang Piala Dunia kelihatannya jadi tinggal mimpi deh. Tapi setiap ada keraguan, gue langsung pukul-pukul kepala, because I want to believe and I need to believe. Jujur melawan perasaan-perasaan itu gak gampang, apalagi kalo melihat kondisi dan cara bermain mereka yang, ah sudahlah.

Ohya, gue bersyukur banget - setelah penampilan mengecewakan Italia di Euro 2004, Kakek Lippi resmi menjadi pelatih Timnas Italia yay - he's like my all-time favorite allenatore ever! Tapi ada juga rumor yang mulai beredar bahwa om saya, Alessandro del Piero, kabarnya terancam tak akan diikutsertakan dalam squad Italia untuk Piala Dunia 2006 karena dianggap sudah terlalu uzur. Saya cemas, maka bertambahlah pokok doa saya mulai hari itu.



"This is your year,"

Akhirnya tahun 2006 datanglah, umur gue udah 17 tahun, dan di tahun itu, gue denger suara di hati, "This is your year,"

Sekitar bulan April gue mulai mengerti apa artinya, nyokap gue tiba-tiba bilang, "Vin, tantemu mo ke Eropa kamu mo ikut gak?"

Gue mo pingsan.

Long story short, all hoo-haas aside, ternyata bokap mengizinkan dan puji Tuhan! I'M GOING TO EUROPE THIS SUMMER WOO-HOO.

Dan gue baru sadar. Eh, summer 2006? Kan ada World Cup? Nanti gue mo nonton dimana? But gak mungkin kan gue bilang ke nyokap, "mah taon depan aja deh ke Italinya mo nonton bola nih," - bisa ditabok berbagai pihak, dan iya lah gue gak mau nunda-nunda terwujudnya mimpi gue, meski bakal banyak rintangan dalam menyaksikan pertandingan-pertandingan yang telah lama dinanti tersebut, maka berangkatlah saya ke Eropa, seiring dengan berjalannya Piala Dunia.

Jadi waktu itu rutenya ke Switzerland dulu baru ke Milan, sebenernya after landing, yang dipikiran gue cuma ITALIA ITALIA ITALIA tapi rugi dong kalo malah jadi gak nikmati keindahan Switzerland, jadi gue berusaha put Italy aside first and enjoy what's right in front of me.

By the way, euphoria World Cup di Eropa tuh kerasa banget, dan setiap gue ngeliat ornamen-ornamen Piala Dunia, gue selalu teringat Om dan kawan-kawan yang sedang berjuang di Jerman. Pernah pas mau naik cable car, distasiunnya tergantung bendera-bendera peserta Piala Dunia, mata gue otomatis nyari bendera Italia dong - tapi nggak ketemu! Gue langsung pengakuan iman, bendera gak ada berarti juara! Amin!

Setelah 2 hari menikmati Switzerland, tiba waktunya kita menuju Swiss-Italian border, pemandangannya: MAJESTIC. Gue melotot sepanjang perjalanan, sampe akhirnya gunung-gunung itu habislah, then all we saw were the roads, trees, other cars, bushes, signages. Udah agak ngantuk, tiba-tiba gue liat sebuah road sign dalam bahasa Italia. "Soprapas" atau yah, flyover lah.

Rasanya pengen teriak.

PRAISE THE LORD WE ARE ENTERING ITALY!!!

Tak lama kemudian kami tiba di perbatasan."Benvenuto all' Italia", begitulah yang tertulis di gerbang. Gue langsung cubit-cubit pipi, secara gue udah beberapa kali mimpi ke Italia, mimpinya vivid banget, sampe dalam beberapa mimpi-mimpi itu, I even asked myself if I were dreaming - I told myself I wasn't - I pinched my cheeks - I was still convinced I wasn't dreaming - the next step would usually be waking up, disappointed.

Namun kali ini gue gak mimpi. *pelok Tuhan.

Masuk ke negara itu...rasanya bener-bener surreal. Teringat perjuangan doa dan air mata selama 4 tahun, and how much I wanted this. Hari pertama udah di Italia, udah ada beberapa peristiwa yang makin bikin pengen peluk Tuhan lebih erat lagi, banyak bonusnya, haha. Jadi ada 1 tempat yang pengen banget gue kunjungin di Milan but I had no idea where the exact location was, sesampainya di Milan kita langsung mengunjungi Duomo, dan pas gue nengok ke belakang, there it was: Galleria Vittorio Emanuelle II, tempat yang 4 tahun yang lalu pernah gue liat di buku perpustakaan SMP dan pengen banget gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, I was amazed.

Langsung gue ngacir kesono, tour guidenya waktu itu sebenarnya tidak memperbolehkan, tapi gue belaga ga denger, haha. Gue bilang dalam hati, "you have no idea how much I wanted this, sir!"

Dan dalam perjalanan kembali ke bus, I stumbled across this:

Cuore: heart, Azzurro: blue :)

Jujur siapa sih yang gak kepengen ketemu pemain-pemain bola kesayangan? Sempet terlintas di pikiran saya, wah kalo misalnya mereka kalah, siapa tau kita bisa ketemu di bandara? Tapi pikiran-pikiran tersebut akan saya tengking dengan segera. "TIDAK! Mereka tidak akan kalah! Mereka akan stay di Jerman sampai Piala Dunia berakhir, dan akan keluar sebagai juara. Amin."

Bwahaha.

Dan dengan ditemukannya billboard Radio Italia tersebut, setidaknya gue udah foto bareng mereka.

Bwahaha again.

~ ~ ~

Italia yang masih tampak kocar-kacir ternyata lolos babak penyisihan, meskipun hasilnya kurang fantastis, di babak 16 besar Italia akan melawan Australia. Kalo lagi di perjalanan (apalagi ditengah pesona benua Eropa) emang susah untuk keep track sama jadwal pertandingan. Mulai dari zona waktu Eropa berbeda sampe kita bahkan gak tau sekarang tuh hari, tanggal, dan jam berapa. Hari itu gue pikir udah kelewatan pertandingan Italia, jadi pas tiba di Roma, tujuan gue cuma nyari skor.

Setibanya di Roma, kita langsung menuju restoran buat early dinner, ngelewatin 1 toko elektronik yang men-display plasma tv: ternyata pertandingan masih berlangsung! Sempat terlintas pikiran untuk skip dinner buat nongkrong di depan toko tersebut tapi sepertinya bisa ditabok tante, dan ternyata di dalem restoran, ada TV kecil, para waiters pun kayak most of the time bengong, nganterin makanan juga tetep ngedongak, gak jauh beda sama gue, makan sambil melotot.

Pertandingan udah mo berakhir, Italy so-so banget, ini baru lawan Australia, kalo lawan tim raksasa udah gak tau lagu deh gue, skor masih 0-0, gue udah siap mental untuk babak pepanjangan waktu, tapi dalam hati gak rela juga, tetep komat-kamit doa, gue tetep berusaha kalem, malu sama yang lain.

Eh si Totti dapet penalty. Gol. Pengen nari-nari diatas meja.

First Italian victory when I was there. Gue bingung kenapa setelah menang, jalanan sepi banget, gue pikir orang bakal party-party di luar. Ternyata, jalanan sepi karena mereka masih ada di rumah masing-masing, sekalinya bus kami belok ke jalan besar, WHOA! People were out on the streets celebrating the victory! It was such an incredible experience, partying with the real Italians! Haha beneran banyak bonusnya deh!


Ohya sebelom berangkat, gue sempet cerita sama temen gue kalo gue akan beli koran sebagai oleh-oleh yang unik, temen gue yang penggemar Totti itu bilang, "beliin koran yang depannya ada Totti yah,"

Gue bilang, "hah, mana bisa lu tentuin headline sendiri!"

Taunya karena kemaren Totti yang dapet penalty, besoknya, terpampanglah wajah Fransesco Totti di koran-koran Italia. Gue cuma bisa senyum-senyum didepan kios koran, "La Gazetta dello Sport, due per favore,"


Sebenernya ngikutin piala dunia pas lagi tur lucu juga, dari usaha nyari TV di tempat umum bareng tour guide, nanya skor sama penjual kaos yang gak nyambung-nyambung, sampe latihan ngomong bahasa Italia sama technician yang betulin TV di kamar hotel. Ah, memories. Coba kalo gue bener-bener ngikutin dari rumah, kayaknya saraf tegang tuh 2 minggu full.

Yak setelah Italia 'mengalahkan' Australia, mereka bertemu Ukraina, yang meski ada Shevcenko tapi yah nggak bisa dibilang raksasa-raksasa amat, menang 3-0, coba ketemu yang lain. Meanwhile, tim-tim besar lain saling menyingkirkan, Jerman mengalahkan Argentina, Portugal mengalahkan Inggris, dan Perancis mengalahkan - BRAZIL. Wow.

By the way, Tuhan memang benar-benar luar biasa, kami juga mampir ke Cannes dan Monaco - I have never thought I would ever be in those two! Gue cuma bisa nahan napas waktu ngelewatin starting gridsnya Monaco GP (dan amazingly, F1 bisa-bisanya diadakan di Singapura! Tuhan makasih :).

Singkat cerita tibalah kami dipenghujung program tur, tujuan terakhir adalah Amsterdam. Karena mayoritas peserta tur setuju untuk stay di Brussels lebih lama, (jadi di Amsterdam kita agak telat 2 jam), jadi gue pikir pertandingan Jerman vs Italia sudah berakhir. Dan yang bisa gue lakukan hanyalah berdoa, that I would get a good news out of it.

Nyampe hotel Amsterdam, gak disangka di lobby tuh berisik banget: campuran suara TV dan riuh orang yang bikin merinding, my goodness, pertandingan belum berakhir! Gue udah kayak anak ilang cari asal suara tersebut tapi gak ketemu, jadinya begitu kita dapet konci, gue mendobrak kamar. Terus frantically cari channel bola.

Ternyata masih ada, dan kedudukan masih seri, maka gue berdoa jungkir balik tanpa henti.

Di babak perpanjangan waktu, terciptalah 2 gol indah, salah satunya dari OM DEL PIERO DONGGG. Menang!!!

Dan beberapa menit setelah memastikan kemenangan gue baru sadar. Kalo barusan tuh semifinal.

"Eh? Barusan itu semifinal? Kita ke final dong?"


FINAL. Perut gue yang udah kram makin kepelintir.



Besok sorenya gue udah harus terbang balik ke Jakarta, belom tau final mo ketemu siapa, it's either France or Portugal. I never liked meeting France *Euro 2000 amit-amit*, but Portugal baru kalah di Final Euro kemaren man, kasian juga kalo ntar kalah lagi. Malam itu, ketika semua penumpang pulas tertidur, saya terjaga untuk mendengarkan pengumuman dari pilot, We will be meeting France in the final, baby.

Kram.

Balik in Jakarta, banyak yang heran kenapa gue baru pulang dari Italia tapi muka tegang hahaha. I remember that Sunday, pulang gereja ke TA nih, masuk toko furniture cuma buat duduk di sofanya, karena saya lemas - perut saya kram. I begged God for victory every waking moment, I told myself to be faithful! Tapi kadang-kadang pikiran berbau "what if..." sering menyerang. Italia sudah terbang terlalu tinggi, sampe ke final, dan kalo udah setinggi itu, terus dihempaskan ke bumi. Pasti sakitnya luar biasa.

Penantian beberapa jam itu sungguh menyiksa, biasanya sebelom partai final akan ada closing ceremony - GUE GAK MAU NONTON, gak kuat. Sejujurnya most of the final match gue gak nonton, biasa, cuma bisa ngumpet di kamar teriak TUHAAAAN TOLONGGG PLIS PLIS PLIS sambil berurai air mata.

Itu mungkin 90 menit terlamaaaa bagi gue. Kejadian final Liga Champions seakan-akan terulang lagi, seri, babak perpanjangan waktu 1, 2, dan adu tendangan penalti.

Gue merasa gue literally sempet pingsan selama beberapa detik. Seumur-umur gak pernah setakut itu. Dan, seperti sebagian besar orang, kita biasanya punya pengalaman-dan sejarah nggak mengenakan soal adu penalti.


___ (blank, anggap aja lagi pingsan).


Then David Trezequet, the Frenchman who scored the golden goal for France back in Euro 2000 Final, failed to score. Therefore we're one goal ahead. Then Fabio Grosso scored. Therefore we won.


___(blank, speechless)


Gue bener-bener cuma bisa bengong selama beberapa menit. Terus lari ke kamar terus pelok guling erat-erat seakan-akan lagi pelok Tuhan. Gue cuma bisa teriak TUUUUHAAAAAAAANNNN MAKASIHHHHHH!!!!!!!

Malem itu gue bener-bener yakin akan 1 hal. God, You do answer prayers. You really do.

Memang mungkin buat sebagian orang ini terdengar lebay dan bahkan sepele, tapi selama 17 tahun hidup gue, those 2 were my first dream come true moments, soalnya I had never wanted anything that bad, never prayed for anything that hard, never prayed for anything so impossible, never prayed for that one particular thing for years. So when God answered the prayer, I can say that changed my life.

A brand new level of faith.


Life after July 9th, 2006.

Oke malemnya siapa sih yang bisa tidur, haha. Tossed and turned sambil senyum-senyum, masih amazed sama cara Tuhan jawab doa. Kalo dari sudut pandang manusia mungkin lama sih doain 4 tahun, tapi, coba pikir, baru World Cup kemaren mulai didoain, World Cup selanjutnya udah dijawab.

Terus banyak hal yang makin dipikirin gue makin amazed, what if we settled for Champions league instead. What if 2000's Euro's and 2006's World Cup results are swapped. What if we won last World Cup? Lippi wouldn't be the manager. Camoranesi wouldn't be in the squad. And I wouldn't have experienced this incredible journey with God.

Bener deh, cara pikir Tuhan gak ada yang ngalahin.

Besoknya gak kalah indah, telepon dari teman-teman mulai masuk mengucapkan selamat (kayak gue yang tanding), bahkan tante ini dan itu yang telpon untuk cari nyokap menyempatkan ngasih selamat, 'denger-denger Itali menang ya Vin? Wah kamu seneng dong.."


Bukan seneng lagi, tante. Hidup rasanya komplit.


Dan hari itupun dipenuhi dengan aktivitas-aktivitas menyenangkan, contohnya: nonton siaran ulang.


Setelah peristiwa itu, soccer became something enjoyable (tadinya enggak, malah bikin stress), I've gotten the best from the soccer planet, I mean what more can you expect than watching your beloved team winning the FIFA World Cup? Yak waktunya memikirkan masalah-masalah yang lebih dewasa, seperti besok pengen makan dimana.

Dan meskipun awalnya berat, setelah 2 tahun lebih di Singapura without regular soccer festivities (meskipun masih suka ngiri sama yang punya TV ber-sport-channels), ternyata saya baik-baik saja tuh.

Kado sweet 17 dari Tuhan :) Hehe.


Now to Him who is able to do immeasurably more than all we ask or imagine, according to His power that is at work within us,


Ephesians 3:20

Wednesday, July 1, 2009

jak-ART-a, ind-ONE-sia

The most exciting part of an air trip is usually the take-off, looking down saying goodbye to the ground. But when it comes to Singapore-Jakarta flights, the best part would be when the captain starts speaking to inform the passengers we're almost there! Yay! Jakarta I'm coming!

I would promptly stop reading, stop daydreaming, or simply wake up, tho I find it so hard to fall asleep on planes, and cars, and trains, and sometimes even beds. If 'jumping around' is permitted on the aircraft I'd do it. Then I'd look out to enjoy the view (window seat is a must, that's why I love Jetstar): the blue sea, small ships, islands, green rice fields, roads, vehicles, houses, and finally the city. And if the plane enters the city from a certain angle when it's not too foggy outside, you'd be able to see the heart of Jakarta, rare bird's eye view. Knowing that my dad is in one of those skyscrapers, and my house is roughly...there! Beside that building, it's heartwarming :)

And here we go, there she is. I thank God my mom is always there, on time, always smiling at me :) Soekarno-Hatta's arrival hall is one of my favorite spots in the capital J! The departure hall is simply the opposite.


Hokben doesn't always happen right after you arrive,
but when it does, you know it's a perfect day!


Jakarta, not much differences. Still dusty. Still lovely.

Leaving the Island



Guess who is the greatest artist of all time? He forms these sculptures in the sky, in a flawlessly orchestrated harmony of shades, rays, and lights even a Michelangelo could never have in mind.

Goodbye Singapore!

I Blog therefore I Exist. In the Cyber World...

1st of July marks the 2nd half's kick-off of 2009. And Ice Age 3 is released today!

In the middle of a 3 months holiday before entering the 3rd year of college, I decided to join those bloggers whose life stories are soo interesting people read them, assuming my life is, also, worth bragging about ahahah. I mean your life can't be so-so if you're given the opportunity to split your life between 2 different yet equally celebrated places, a whole new world to explore, and the chance to cross path with fellow human beings from all across the globe right?

And your life must be abundantly wondrous if you are the child of The Creator of this world.

Well, blogging = sharing.

And gossiping, and doing business, and showing off, and so on. Well I hope this one functions positively, giving all the beloved strangers out there good and life-changing (nothing's wrong with that goal) influences. And I guess it is an amusing (and very public) way of documenting life, my superfun 20-something life.


haaappy reading!!