Tuesday, July 31, 2012

Worth Sharing

Sebuah artikel yang bikin merinding disela-sela break kantor. Rasa nasionalisme langsung meroket! Pokoknya saya bangga jadi orang Italia #eh.


Oleh: Sindhunata (KOMPAS.com)

Anarkisme Squarda Azzura.

Italia baru, begitulah Joachim Loew menjuluki lawannya malam nanti. Memang di bawah seorang gentleman Italia bernama Cesare Prandelli, ”Squadra Azzurra” sungguh telah berubah. Sekarang mereka bermain dengan penuh petualangan, variasi, dan tanpa takut akan risiko.

Prandelli juga disebut ”telah berhasil membuat kesebelasan dari tumpukan para anarkis”. Dalam Piala Eropa ini, tak ada kesebelasan yang demikian kreatif, cerdik, tak terduga, emosional, dan eksentrik seperti Italia.

Di bawah Prandelli, kesebelasan Italia juga telah menjadi wadah bersatunya pemain-pemain yang mempunyai karakter kuat, khas, dan sulit, seperti enfant terrible Mario Balotelli, si bengal Antonio Cassano, si genius Andrea Pirlo, si anak jalanan Daniele de Rossi, dan si kepala dingin Gianluigi Buffon. Tipe-tipe pemain seperti ini tak ada di kesebelasan Jerman. Lihatlah, misalnya, perilaku Buffon sebelum adu penalti melawan Inggris. Di perempat final Piala Eropa 2012 itu, ketika wasit melemparkan keping uang, Steven Gerrard kelihatan begitu muram seakan sudah membayangkan Inggris bakal gagal.

Sebaliknya Buffon tampak begitu cerah dan optimistis, kelihatan membuat lelucon lalu tertawa dan memeluk Gerrard seakan hendak mengatakan, amico mio, sahabatku, jangan takut, kamu akan kalah, tetapi dunia tidak akan runtuh karena itu. Buffon sendiri tak tega melihat bagaimana ”lotre neraka” itu berjalan. ”Itu seperti lotre. Masuk atau tidak masuk. Saya tidak dapat melihatnya,” kata kiper Italia itu.

Namun, ketika berdiri di gawang, Buffon seperti raksasa yang menghadang. Ashley Cole gemetar dan tembakannya pun dengan mudah ditangkap Buffon. Betapa Buffon dan Italia begitu lepas dan relaks, sementara seluruh Eropa sedang kaku dan tegang. ”Dalam sepak bola ada sesuatu seperti keadilan Tuhan yang selalu memberikan balasan dan keseimbangan bagi semuanya yang hidup,” kata Buffon.

Buffon dijuluki portierone, artinya bukan sekadar penjaga gawang, melainkan juga portir penjaga pintu. Seperti seorang portir di tempat penginapan bergaya Romawi, Buffon juga suka mengoceh. Namun, dalam ocehannya tampak bahwa sesungguhnya ia adalah seorang patriot Italia. ”Waktu menyanyikan lagu kebangsaan Italia, saya mesti teringat akan dua kakek saya yang gugur dalam Perang Dunia I,” kata Buffon.

Lain dengan Buffon, pahlawan Italia Andrea Pirlo adalah seorang pendiam. Pirlo dikenal amat serius. Apalagi, sekarang di usianya yang ke-33, garis-garis keriput di wajahnya semakin menambah kesan keseriusannya.

Pirlo juga manusia yang amat tenang. Ketenangan itu ia perlihatkan di lapangan, di mana ia menjadi regisseur yang amat cerdik dan meyakinkan. Sebagai regisseur, Pirlo tahu bagaimana mengatur irama permainan teman-temannya. Ia bisa segera mengarahkan mereka untuk bermain defensif, tetapi sewaktu-waktu ia pula yang memelopori Italia untuk merangsek dengan amat ofensif. Passing-passing-nya juga amat tajam dan persis. Ketika melawan Inggris, dalam 129 menit, Pirlo membuat operan 146 kali dan dari 32 umpan panjangnya, 25 kali menyasar tepat di kaki teman yang dituju. Luar biasa. Pirlo juga mempunyai intuisi tentang keindahan. Ini ia tunjukkan ketika melakukan tendangan penalti yang begitu gemulai ke gawang Inggris yang dijaga Joe Hart. Sejak final Piala Eropa 1976, ketika pemain Cekoslowakia, Antonin Panenka, mengecoh gawang Jerman yang dijaga Sepp Maier, tak ada tendangan penalti yang begitu intuitif dan indah.

”Selamat untuk Pirlo. Sebuah kesebelasan membutuhkan tipe pemain yang dingin dan jernih, yang bisa mengubah penalti menjadi gol, yang tidak bisa diperoleh dengan latihan sekeras apa pun,” kata Pelatih Inggris Roy Hodgson kagum. Pirlo memang tidak berlatih, ia berintuisi dalam bermain bola. 

Intuisi itulah yang membuat ia bisa memainkan bola sebagai seni. ”Ia layaknya seniman, seperti Beethoeven atau Mozart,” puji mantan pemain juara dunia Perancis, Christian Karembeu, sewaktu Pirlo dinobatkan sebagai man of the match malam itu. Pirlo tak peduli dengan pelbagai pujian itu. Katanya, ”Yang terpenting untuk kami adalah semifinal melawan Jerman.”

Eksentrik 

Selain Buffon dan Pirlo, Italia juga mempunyai Balotelli yang eksentrik. Balotelli adalah orang yang amat spontan. Lebih-lebih pada saat berada dalam tekanan besar, ia bisa melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri. Ia sering naif, enggan membuat pertimbangan sebelum ia melakukan sesuatu.

”Saya berharap, ia bisa bertahan dalam segala tekanan itu. Namun, saya tak tahu, mungkin ia akan lepas kendali,” kata Christina Balotelli, adik pemain eksentrik itu, menjelang pertandingan Italia melawan Inggris. Balotelli memang sering merepotkan. Namun, Prandelli tetap memerlukannya. Bagi Prandelli, Balotelli adalah pemain yang strategis untuk sistemnya yang ofensif. Bola-bola manis dariregisseur Pirlo akan sia-sia jika tiada kaki Balotelli yang haus gol itu.

Balotelli, Pirlo, Buffon, masih ada lagi De Rossi dan Cassano, adalah unsur-unsur anarkis dari kesebelasan Italia. Sungguh suatu prestasi bahwa Prandelli bisa menyatukan anarkisme itu dalam sebuah orkestra permainan yang emosional, agresif, kreatif, dan inovatif. Anarkisme demikian tak bisa dipolakan dan sungguh tak bisa diduga oleh lawan. Ketidakterdugaan, petualangan dalam kegembiraan, dan agresivitas menyerang, itulah yang kiranya dikhawatirkan oleh Joachim Loew dan anak-anaknya.

”Kami sadar bahwa Italia sekarang adalah lain daripada Italia 2010. Mereka mengalami perkembangan yang luar biasa,” puji Loew.

Loew sadar, tidaklah mudah melawan Italia walau ia bilang, ”Kami juga tahu, di mana letak kesulitan mereka.”

Wednesday, July 25, 2012

Remarkably Artificial, Delightfully Natural


We've all heard about hoo-haas from the freshly opened garden complex built on the near-bottom of Singapore. I was skeptical yet curious. Skeptical because, it might feel phony. Well of course it is, the country doesn't have the real stuff they have to make the artificial ones. Curious because, who likes artificial stuff anyway? Me! Especially if it is superbly done! Like some other things in Singapore you wouldn't guess are man-made. I hope this one falls to the better category. So let's hope and let's go!

The Gardens by the Bay can be reached from MBS (tuh kan, nowadays fun revolves around Marina Bay Sands #artscience #viviennewestwood #harrypotter), so after a bowl of Kolomee and a $2.40 te peng, we walked with thousands of fellow curious people towards the place where wonders bloom (nice tagline!). The route from MBS to the destination was pleasant, with a connecting bridge that gives you unique view of Marina Bay Sands and  ECP, but not to forget it was a roasting Sunday afternoon. 

And here comes the 1st impression of the gardens: fake. Just like most areas in the Botanical garden, and I started to lose interest (but later I heard the scenes at night are pretty amazing!). Sorry for being a pain in the garden but the grass wasn't green enough, the waters weren't so clean nor placid. But nevermind, what we were really kepo about was what's inside the domes. As we walked further inside the more curious we became, because on our way there, we heard some words of temptations such as 'cooled', 'flowers', and 'there's a mountain and a waterfall inside the dome' whaaaaaaat. Enough to make us stood outside in awe and queued for the tickets.


Cloud dome: WOW. 

I say this is mindblowing, beyond expectation. Even though the magnificence cannot be compated to the Alps or Bromo (duh), but I guess we're here not only to experience nature, but moreover to catch a glimpse of the future –and to ponder at the admirably clever space planning, thumbs up for the effort! And here in the cloud dome lies the secret of making artificial stuff pretty: is that you don't try to hide its artificiality. You embrace, and unite harmoniously. Pretty.

I wish I brought the long-forgotten DSLR, so please bear with the smartphone quality pics, as usual, you know me so well.



Mindddblowingg
It is freezing inside, which really helps you 'getting into' it.

























Definitely not a place for acrophobics.


Flower dome: not as wow, but still.

This one is wider but not taller than the cloud dome, it is grand-er, but as we walk through it, hmm, this dome isn't as impressive, and a little dissapointing for pink rose admirers like me (only few roses, fewer pink roses, and only 1 pink rose which shade is approximately ideal - according to me). Maybe because the space usage isn't as genius as the one applied in cloud dome, and not enough flowers (I am serious, the flowers can be much more densed - kayak gw ngerti cara berkebun), and this one feels...sorry, a little, fake. But, BUT, I would really really really like to see this place at night (how romantic!). I guess it'll look like Avatar's Pandora?

And, there is a function hall in the middle of the flowers. That is something. Sesuatu banget. That is a huge thing for wedding-minded people like us. The next 5 minutes of our visit were spent for future space planning: where the altar will be, where to put the siomay stall, and so on.











Ini bunga cantik sekalii. Tapi tetep cantik-an pink roses.



Pink roses :)










Yang ini. Paling. Cantik.*


...

...

krik..krik..



*adalah pernyataan mutlak yang tidak dapat disanggah kebenarannya.



Sunday, July 22, 2012

Girls will be Girls


One fine day, on an iseng nationalmuseum.sg visit,
a miracle happened. Uhm, I mean, displayed.


APAAAAHHH????