Monday, August 17, 2015

Seperti 20 Tahun Yang Lalu


Post ini sebenarnya mulai ditulis buat Agustusan tahun lalu, tapi tertunda setahun, karena lebih afdol nulis tentang ulang tahun ke-70 daripada 69, nanggung. Dan akan lebih afdol kalo mau nunggu 5 tahun lagi, tapi rupanya saya tidak sesabar itu.

Untung nunggu setahun. Momentumnya tepat, bisa studi banding emosi dulu karena negeri tetangga baru saja merayakan ulang tahun emasnya. Atmosfirnya sangat terasa: gegap gempita dan banyak diskon! Tapi yang paling penting (yang paling sentimental maksudnya), #SG50 adalah kesempatan untuk nostalgia, periode ini penuh dengan wajah-wajah haru + bangga ----> mirip kayak muka-muka kita waktu merayakan hal serupa, 20 tahun yang lalu (apaaahhh).

17 Agustus 1995. Taman Kanak-Kanak Kemurnian II, kelas TKB2. Riuh. Gaduh. Merdeka. Ruang kelas dihiasi bunting merah putih di berbagai sisi. Masing-masing dari kita dikasih bendera imut yang holdernya dari sedotan untuk dikibar-kibarkan saat menyanyikan lagu-lagu patriotis, meski dulu belom tau apa artinya "selama hayat masih dikandung badan". Tapi yang paling sulit dilupakan dari hari itu adalah betapa terlihat menggebu-gebunya Ibu Yanti waktu menceritakan betapa "hebatnya" negeri ini, dari kekayaan alamnya, perjuangan menuju kemerdekaan yang spektakuler ("mereka pake pistol, kita pake bambu runcing, tapi kita menang!), dan tidak boleh lupa, si Bapak yang membangunnya. Bangga. Indonesia keren abiss.

Tak disangka begitu banyak yang terjadi 20 tahun setelah hari yang happening itu. Rapor kebakaran. Rahasia demi rahasia tersingkap. Harapan timbul tenggelam. Banyak yang gak yakin kita ini maju atau mundur. Gak tau dimana Ibu Yanti sekarang, adanya reporter-reporter layar kaca yang menceritakan betapa hancurnya negeri ini. 17 Agustus 2015. Masih bangga, ndak?


Masih sih.


Bahkan moment paling bikin bangga jadi orang Indonesia (so far) terjadi hanya 4 tahun setelah salah satu periode terkelam negeri ini setelah "merdeka", yaitu waktu Hendrawan secara supranatural menaklukkan Roslin Hashim! Meski by now kita udah jago banget mengkritik dan menertawakan diri sendiri (karena udah biasa), tapi tetap cinta, cinta mati malah (sama nasi goreng tek-tek). Tetap jantungan dan teriak-teriak depan TV kalo Indonesia lagi maen (kayak ngaruh aja). Nasionalisme ini rupanya tak lekang waktu dan cobaan (dan belom terjawab teka-teki ini datengnya nature atau nurture itu paaakkk). Namun sempat timbul pertanyaan mengganggu tapi lumayan sulit untuk dihiraukan: ah, sedangkal itukan nasionalisme saya.

Apakah nasionalisme itu sekadar:
  • Ikut berang waktu dengar kabar Batik, lagu, tari, bahkan salah 1 spesies bunga kita* mau di-claim oleh Malaysia
  • Senengnya bukan main pas Obama bilang 'Menteng Dalam'
  • Rela ngantri nguler demi nonton premier The Raid
  • Taking ink-stained finger selfie
  • Ikut serta dalam usaha mewujudkan #wasitgoblok jadi worldwide trending topic
  • Ngefans abis sama Sigit Budiarto
  • Ngeshare link di media sosial yang menceritakan sisi Indonesia yang mirip nirwana
  • Ngasi standing ovation buat Agni Pratistha
  • Me-marketkan Indomie sebagai salah satu kontribusi terbesar bagi kemanusiaan
  • Menitikkan air mata mendengar Indonesia Raya berkumandang di ajang bergengsi
  • Ikut gabung dalam komunitas orang Indonesia (dimanapun anda berada)
  • Makan makanan Indonesia at least once a week (dimanapun anda terdampar)
Tapi kalo disuruh mengorbankan kepentingan pribadi atau golongan untuk bangsa dan negara, mau kah saya? Jawaban dan alasannya macem-macem: bukan panggilan, males karena gak akan dihargai, atau males berurusan dengan kesemrawutan yang memang sudah menjadi karakter negeri ini. Apapun alasannya, apa masih boleh ngaku nasionalis? Ini nasionalisme, atau merely pride 01 (my country is the best), or pride 02 (my country sucks but I survive)? Kalo nasionalisme = pride, apa dong gunanya?.. Anyway, apa sih sebenarnya definisi nasionalisme itu? Berikut jawabannya menurut KBBI:


nasionalisme/na·si·o·na·lis·me/
  1. Paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan
  2. Kesadaran keanggotaan dl suatu bangsa yg secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan

Hmm.

Definisi kedua ini anget.


Pride memang komponen penting dari nasionalisme, tapi bukan itu saja. Ada sense of belonging (menjadi bagian dalam sebuah komunitas, menemukan pillars of support, meski berbeda-beda tetap satu), familiarity and comfort (menemukan orang-orang yang punya nilai dan norma yang sama), collective confidence (together we can), atau bentuk rasa syukur (thank God for nasi padang!!!). Seperti iman dan perbuatan, nasionalisme yang kuat akan mendorong seseorang untuk mengontribusikan sesuatu, tangible or not, but even intangible contribution can lead to change. Nasionalisme akan berujung pada majunya industri kreatif Indonesia (karena percaya diri dan dihargai), masa depan yang lebih cerah (karena kesatuan), Indonesia yang lebih pintar (karena kepedulian), Indonesia yang lebih anget (karena cinta, dan cinta gak bisa dibeli). Nasionalisme itu modal awal, dan ternyata ada kok gunanya.

Sekacau-kacaunya Indonesia, we're all in this together. #nasionalisme

Selamat ulang tahun, Indonesia. Wish you all the best, beneran deh. Semoga kelak kita akan bisa merasakan lagi rasa bangga seperti 20 tahun yang lalu, bahkan lebih, dan tanpa kepalsuan. Untukmu, malam ini akan kami kumandangkan sebuah doa, terdengar sepele buat dunia tapi sangat besar kuasanya. Karena puncak kangen paling dahsyat adalah ketika dua orang tak saling menelepon tak saling SMS BBM-an dan lain-lain namun diam-diam keduanya saling mendoakan (kata bang Sujiwo Tejo, tuh kan Indonesia, you've got overwhelming amount of talent).



*Bunga Citra Lestari, wanita Indonesia yang sudah terlanjur dinikahi pria Malaysia.